
Kedatangan Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), menandai momen penting dalam jalinan persahabatan bilateral kedua negara. Disambut langsung oleh Menteri Negara UEA, sebuah sambutan hangat yang mencerminkan kedalaman dan kehormatan hubungan diplomatik, kehadiran Megawati bukan sekadar kunjungan kenegaraan biasa, melainkan sebuah pertemuan yang sarat makna, baik secara politis, historis, maupun personal. Dalam suasana yang akrab namun tetap formal, perbincangan antara Megawati dan pejabat tinggi UEA tersebut melampaui agenda diplomatik konvensional, menyentuh topik-topik personal yang menghangatkan suasana, dari cerita mengenai cucu hingga refleksi mendalam tentang warisan dan pemikiran proklamator kemerdekaan, Ir. Soekarno.
Megawati Soekarnoputri, sosok yang tak lekang oleh waktu dalam peta politik Indonesia, membawa serta aura seorang negarawan senior dan putri dari Bapak Bangsa. Sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan, partai politik terbesar di Indonesia, dan juga Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pengaruh serta kebijaksanaannya tetap relevan dalam setiap dialog yang diikutinya. Kehadirannya di Abu Dhabi bukan hanya sebagai representasi pribadi, melainkan juga sebagai simbol kesinambungan sejarah dan aspirasi Indonesia di kancah internasional. Kunjungan ini, meski detail agendanya tidak sepenuhnya dipublikasikan secara luas, jelas bertujuan untuk mempererat ikatan strategis dan kultural antara Indonesia, negara kepulauan terbesar di Asia Tenggara, dengan UEA, sebuah kekuatan ekonomi dan inovasi yang sedang berkembang pesat di Timur Tengah.
Sambutan yang diberikan oleh Menteri Negara UEA, sebuah posisi yang seringkali menangani urusan luar negeri dan kerja sama internasional, menggarisbawahi pentingnya kunjungan Megawati bagi pemerintah Emirat. Hal ini menunjukkan bahwa UEA memandang Indonesia, khususnya melalui sosok Megawati, sebagai mitra strategis yang memiliki bobot historis dan pengaruh geopolitik. Pertemuan semacam ini seringkali menjadi ajang untuk memperkuat saling pengertian, menjajaki potensi kerja sama baru, dan menegaskan kembali komitmen bersama dalam berbagai isu regional maupun global. Di balik gemerlap kemajuan dan modernitas Abu Dhabi, ada kesadaran mendalam akan pentingnya hubungan antarbangsa yang didasari pada rasa saling hormat dan kepentingan bersama.
Salah satu aspek yang paling menarik dari pertemuan ini adalah nuansa perbincangan yang terungkap: dari cucu hingga Bung Karno. Pembicaraan mengenai cucu, topik yang tampaknya sepele dalam konteks diplomasi tingkat tinggi, sebenarnya sangat signifikan. Ini menunjukkan adanya upaya untuk membangun jembatan personal dan kemanusiaan antara kedua belah pihak. Dalam dunia politik yang seringkali keras dan penuh perhitungan, sentuhan pribadi semacam ini dapat melunakkan suasana, menciptakan ikatan emosional, dan menumbuhkan rasa saling percaya. Diskusi tentang keluarga, tentang bagaimana menyeimbangkan peran sebagai pemimpin dengan peran sebagai orang tua atau kakek-nenek, adalah universal. Hal ini memungkinkan para pemimpin untuk melihat satu sama lain bukan hanya sebagai perwakilan negara, tetapi juga sebagai individu dengan pengalaman hidup, tantangan, dan kebahagiaan yang serupa. Ini adalah cara efektif untuk membangun rapport, menciptakan fondasi bagi dialog yang lebih substruktur dan produktif di kemudian hari.
Transisi dari pembahasan cucu ke Ir. Soekarno, sang proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia, adalah lompatan yang memperkaya makna pertemuan. Diskusi tentang Bung Karno bukan sekadar napak tilas sejarah, melainkan pengakuan terhadap warisan pemikiran dan perjuangannya yang melintasi batas geografis dan waktu. Soekarno adalah tokoh yang tidak hanya mendirikan bangsa Indonesia, tetapi juga salah satu arsitek Gerakan Non-Blok (GNB) dan penggagas Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada tahun 1955. Konferensi ini menjadi mercusuar bagi negara-negara yang baru merdeka atau yang sedang berjuang melawan kolonialisme, menginspirasi banyak bangsa di Asia, Afrika, dan Timur Tengah untuk menegaskan kedaulatan dan identitas mereka di panggung dunia.
Bagi banyak negara di Timur Tengah, termasuk UEA yang juga memiliki sejarah panjang perjuangan untuk kemerdekaan dan pembangunan identitas nasional, pemikiran Soekarno tentang kemandirian, persatuan, dan keadilan global sangat relevan. Konferensi Asia-Afrika di Bandung, dengan Dasa Sila Bandung-nya, menyerukan prinsip-prinsip perdamaian dunia, penghormatan terhadap kedaulatan, non-intervensi, dan kerja sama ekonomi-kultural. Prinsip-prinsip ini masih menjadi landasan penting bagi kebijakan luar negeri banyak negara berkembang dan memiliki resonansi kuat di kawasan yang terus berupaya mencapai stabilitas dan kemakmuran di tengah gejolak geopolitik. Diskusi tentang Bung Karno bisa jadi merupakan upaya untuk menggali pelajaran dari sejarah, mencari inspirasi dari visi seorang pemimpin yang mampu menyatukan bangsa yang majemuk dan memimpin gerakan global.

Megawati, sebagai putri kandung Soekarno, adalah pewaris langsung dari warisan ideologis dan spiritual sang proklamator. Ia adalah jembatan hidup menuju masa lalu yang penuh heroisme dan idealisme, serta penentu arah masa depan Indonesia. Ketika Megawati berbicara tentang ayahnya, ia tidak hanya menceritakan sejarah, tetapi juga menghadirkan kembali semangat perjuangan, filosofi Pancasila, dan visi Indonesia untuk dunia yang adil dan beradab. Ini adalah aset diplomatik yang tak ternilai harganya, memungkinkan dialog yang lebih dalam dan autentik, di mana sejarah dan identitas nasional menjadi bagian integral dari perbincangan. Para pemimpin UEA, dengan ambisi mereka untuk membangun bangsa yang modern namun tetap berakar pada tradisi dan nilai-nilai luhur, tentu melihat nilai dalam pengalaman Indonesia yang kaya dan kepemimpinan visioner seperti Soekarno.
Hubungan bilateral antara Indonesia dan UEA sendiri telah mengalami peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kedua negara telah menjalin kemitraan strategis di berbagai sektor, mulai dari investasi infrastruktur, energi terbarukan, pariwis, hingga teknologi digital. UEA, melalui dana investasi negara seperti Abu Dhabi Investment Authority (ADIA) dan Mubadala Investment Company, telah menjadi salah satu investor terbesar di Indonesia. Proyek-proyek besar seperti pembangunan ibu kota baru Indonesia, Nusantara, juga menarik minat investor UEA. Sebaliknya, Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, adalah mitra penting bagi UEA dalam mempromosikan Islam moderat dan kerja sama antaragama. Kunjungan Megawati ini memperkuat dimensi non-ekonomi dari hubungan tersebut, menyoroti pentingnya ikatan kultural dan historis dalam membangun fondasi kerja sama yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
Di luar aspek ekonomi, ada juga pertukaran budaya dan pendidikan yang semakin intens. Banyak warga negara Indonesia yang bekerja dan tinggal di UEA, serta mahasiswa yang menuntut ilmu di sana, menciptakan diaspora yang menjadi jembatan hidup antara kedua bangsa. UEA juga merupakan salah satu destinasi umrah dan haji bagi jemaah Indonesia, memperkuat ikatan spiritual dan keagamaan. Dengan demikian, pertemuan antara Megawati dan Menteri Negara UEA ini bukan hanya sekadar pertemuan diplomatik formal, melainkan perpaduan unik antara diplomasi personal, refleksi sejarah, dan proyeksi masa depan. Ini menunjukkan bahwa hubungan antarnegara tidak melulu tentang angka ekonomi atau kesepakatan politik, tetapi juga tentang kisah-kisah pribadi, warisan leluhur, dan nilai-nilai kemanusiaan yang mempersatukan.
[P11]
Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8335951/megawati-disambut-menteri-negara-uea-di-abu-dhabi-bincang-soal-bung-karno