
Sebuah insiden mengejutkan mengguncang proyek renovasi Jembatan Leuwiranji, Bogor, ketika seorang pekerja konstruksi dilaporkan terjatuh ke derasnya arus Sungai Cisadane. Peristiwa nahas ini terjadi pada pagi hari yang relatif cerah, mengubah rutinitas pembangunan yang seharusnya berjalan lancar menjadi suasana panik dan duka. Saksi mata, rekan-rekan kerja, dan warga sekitar yang kebetulan melintas di lokasi kejadian langsung tersentak kaget, menyaksikan detik-detik mengerikan ketika sosok pekerja itu hilang ditelan arus. Informasi cepat menyebar, memicu respons sigap dari berbagai pihak. Tak lama berselang, Tim SAR gabungan yang terdiri dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, kepolisian, TNI, serta relawan lokal segera dikerahkan ke lokasi untuk melancarkan operasi pencarian. Harapan tipis namun terus menyala menyertai setiap langkah upaya penyelamatan di tengah tantangan berat yang disuguhkan oleh alam.
Kejadian tragis tersebut diperkirakan berlangsung sekitar pukul 09.30 WIB. Korban, yang kemudian diketahui bernama Bapak Joni (nama samaran), seorang pria paruh baya berusia sekitar 45 tahun, sedang melaksanakan tugasnya di salah satu bagian jembatan yang memerlukan perbaikan struktural. Menurut keterangan awal dari beberapa rekan kerja, Bapak Joni tengah memasang bekisting di bagian bawah jembatan, dekat dengan permukaan air sungai, saat pijakannya tiba-tiba goyah. Beberapa rekan mencoba meraihnya, namun kecepatan kejadian dan licinnya permukaan membuat upaya tersebut sia-sia. Dalam hitungan detik, tubuh Bapak Joni terhempas ke dalam sungai yang mengalir cukup deras pasca-hujan lebat beberapa hari sebelumnya. Jeritan kaget dan panik langsung membahana di lokasi proyek. Sesaat setelah jatuh, tubuhnya sempat terlihat terbawa arus beberapa meter ke hilir sebelum akhirnya menghilang ditelan riak air yang keruh dan berputar. Keterkejutan dan keputusasaan seketika melingkupi para pekerja lainnya, yang hanya bisa terpaku melihat kejadian mengerikan tersebut tanpa bisa berbuat banyak.
Bapak Joni bukanlah sosok asing di proyek-proyek konstruksi di wilayah Bogor. Ia dikenal sebagai pekerja keras yang memiliki pengalaman cukup panjang dalam bidang bangunan dan infrastruktur. Berasal dari sebuah desa kecil di pinggiran Bogor, Bapak Joni adalah tulang punggung keluarga, menghidupi seorang istri dan dua orang anak yang masih bersekolah. Setiap pagi, dengan semangat yang membara, ia berangkat dari rumahnya, meninggalkan keluarganya dengan harapan bisa membawa pulang nafkah yang halal dan cukup. Pekerjaan di proyek Jembatan Leuwiranji ini adalah salah satu sumber penghasilannya yang utama. Ia selalu menekankan pentingnya keselamatan, namun takdir berkata lain. Insiden ini tidak hanya menjadi duka bagi keluarga Bapak Joni, tetapi juga meninggalkan luka mendalam bagi rekan-rekan kerjanya yang menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Mereka tahu betul betapa berharganya setiap nyawa di tengah kerasnya medan pekerjaan konstruksi, terutama yang melibatkan ketinggian dan air.
Jembatan Leuwiranji sendiri merupakan salah satu urat nadi transportasi penting di wilayah Bogor. Jembatan ini menghubungkan beberapa kecamatan strategis dan menjadi jalur vital bagi mobilitas warga serta distribusi logistik. Dibangun puluhan tahun lalu, jembatan ini telah menopang beban lalu lintas yang terus meningkat seiring perkembangan kota. Oleh karena itu, proyek renovasi besar-besaran ini sangat krusial untuk memastikan keamanan dan ketahanan struktural jembatan dalam jangka panjang. Lingkup renovasi mencakup penguatan pondasi, perbaikan struktur beton yang rapuh, penggantian railing, hingga pelebaran badan jalan untuk mengakomodasi volume kendaraan yang semakin padat. Pekerjaan di bagian bawah jembatan, terutama yang bersentuhan langsung dengan sungai, memang selalu menjadi tantangan tersendiri, memerlukan ketelitian ekstra dan standar keselamatan yang sangat ketat. Insiden ini secara tragis mengingatkan semua pihak akan risiko inheren dalam setiap pembangunan infrastruktur vital seperti jembatan ini.
Sungai Cisadane, yang membentang luas di bawah Jembatan Leuwiranji, adalah salah satu sungai besar di Jawa Barat. Karakteristiknya yang dinamis seringkali menjadi tantangan tersendiri, terutama saat musim penghujan atau pasca-hujan deras. Pada saat kejadian, debit air Sungai Cisadane diketahui meningkat signifikan, arusnya deras, dan warnanya keruh kecoklatan akibat lumpur dan material organik yang terbawa dari hulu. Kedalaman sungai di bawah jembatan bervariasi, dengan beberapa titik yang bisa mencapai belasan meter, ditambah lagi dengan keberadaan pusaran air dan potensi tersangkutnya material-material besar seperti kayu atau sampah. Kondisi ini secara drastis mengurangi jarak pandang di bawah permukaan air, membuat upaya pencarian dan penyelamatan menjadi semakin rumit dan berbahaya. Suhu air yang dingin juga menjadi faktor lain yang harus diperhitungkan oleh tim penyelamat, mengingat risiko hipotermia yang mengancam jika korban masih hidup dan terapung.
Respon cepat dari tim SAR gabungan patut diapresiasi. Setelah menerima laporan, tim dari BASARNAS dan BPBD Kabupaten Bogor segera bergerak dengan mengerahkan personel terlatih dan peralatan lengkap. Beberapa perahu karet bermotor, pelampung, tali, dan perlengkapan selam segera disiapkan di tepi sungai. Sebuah posko darurat juga didirikan tak jauh dari lokasi kejadian untuk koordinasi operasi dan sebagai pusat informasi bagi keluarga korban serta media. Komandan operasi dari BASARNAS dengan sigap memimpin briefing singkat, membagi tim menjadi beberapa sektor pencarian. Prioritas utama adalah menyisir area di sekitar titik jatuh dan beberapa kilometer ke hilir, mengingat kecepatan arus sungai. Cuaca yang sempat mendung namun kemudian cerah memberikan sedikit keuntungan dalam hal visibilitas dari udara dan permukaan air, namun arus deras tetap menjadi musuh utama bagi tim penyelamat.

Jam-jam pertama pencarian adalah momen paling krusial, di mana harapan untuk menemukan korban dalam keadaan selamat masih ada. Tim penyelam segera diturunkan ke beberapa titik yang dianggap berpotensi, meskipun visibilitas yang sangat rendah menjadi kendala serius. Sementara itu, tim di atas perahu karet melakukan penyisiran permukaan sungai secara teliti, mencari tanda-tanda keberadaan korban atau barang bukti yang mungkin terlepas dari tubuhnya. Mereka juga berkoordinasi dengan warga lokal yang terbiasa dengan karakteristik Sungai Cisadane, memanfaatkan pengetahuan mereka tentang titik-titik rawan atau daerah yang sering menjadi tempat tersangkutnya benda-benda hanyut. Namun, hingga sore hari menjelang gelap, upaya intensif tersebut belum membuahkan hasil. Matahari terbenam menambah kesulitan, memaksa tim untuk memperlambat tempo pencarian di malam hari dan lebih mengandalkan lampu sorot serta instrumen pendeteksi.
Memasuki hari kedua, operasi pencarian semakin diintensifkan dengan penambahan personel dan peralatan yang lebih canggih. Tim SAR kini juga menggunakan drone untuk pemantauan udara di sepanjang bantaran sungai, serta alat pendeteksi bawah air seperti sonar portabel untuk memindai dasar sungai yang dalam dan keruh. Wilayah pencarian diperluas hingga puluhan kilometer ke hilir, mencakup beberapa titik bendungan dan cekungan yang berpotensi menjadi tempat tersangkutnya korban. Selain itu, tim juga berkoordinasi dengan Polisi Airud untuk patroli di area yang lebih jauh. Kelelahan mulai terlihat di wajah para penyelamat, namun semangat untuk menemukan Bapak Joni tidak pernah padam. Mereka tahu betul bahwa setiap detik sangat berarti, tidak hanya untuk menemukan korban, tetapi juga untuk memberikan kepastian dan ketenangan bagi keluarga yang menanti dengan cemas di posko.
Kondisi psikologis keluarga Bapak Joni di posko sangat memilukan. Istrinya, Ibu Siti (nama samaran), tak henti-hentinya meneteskan air mata, sesekali pingsan karena syok dan kelelahan. Anak-anaknya yang masih kecil mencoba tegar, namun sorot mata mereka tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kebingungan. Rekan-rekan kerja Bapak Joni juga merasakan duka yang mendalam. Mereka saling menguatkan, berbagi cerita tentang Bapak Joni, dan berdoa agar sahabat mereka segera ditemukan. Kehadiran para psikolog dari BPBD dan relawan sangat membantu dalam memberikan dukungan moral dan konseling kepada keluarga dan rekan-rekan korban. Peristiwa ini bukan hanya tentang pencarian fisik, tetapi juga pencarian ketenangan jiwa bagi semua yang terlibat, sebuah penantian yang penuh harapan bercampur dengan ketidakpastian yang menyakitkan.
[P11]
Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8335956/pekerja-renovasi-jembatan-leuwiranji-bogor-jatuh-ke-sungai-tim-sar-telusuri