Pekerja Jembatan Jatuh Cisadane: SAR Gabungan Lanjut Pencarian News

Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) yang melibatkan berbagai unsur, termasuk Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (POLRI), serta sejumlah relawan, terus dilanjutkan dengan fokus tinggi di sepanjang aliran Sungai Cisadane. Mereka bertekad menemukan seorang pekerja renovasi Jembatan Leuwikranji yang dilaporkan jatuh ke sungai tersebut beberapa waktu lalu. Insiden nahas ini telah memicu respons cepat dari otoritas setempat, mengingat risiko tinggi yang melekat pada pekerjaan konstruksi di atas perairan dan bahaya yang mengintai di sungai berarus deras.

Upaya pencarian saat ini difokuskan pada metode gabungan, yaitu penyisiran menggunakan perahu karet yang menyusuri aliran sungai dari titik kejadian hingga beberapa kilometer ke hilir, serta penyisiran darat yang dilakukan oleh personel di tepi sungai. Tim darat bertugas memeriksa setiap lekukan sungai, semak belukar, dan tumpukan sampah yang berpotensi menjadi lokasi tersangkutnya korban. Kondisi Sungai Cisadane yang memiliki karakteristik beragam, mulai dari lebar, kedalaman, hingga kecepatan arus yang fluktuatif, menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan. Mereka harus berhadapan dengan kondisi air yang keruh, vegetasi rimbun di tepian, dan potensi adanya material-material padat di dasar sungai yang dapat menghambat proses pencarian.

Korban, yang identitasnya diketahui sebagai Bapak Jaka (nama samaran untuk menjaga privasi dan menghindari spekulasi), adalah salah satu pekerja yang terlibat dalam proyek renovasi Jembatan Leuwikranji. Menurut keterangan rekan kerjanya dan saksi mata di lokasi, insiden terjadi saat Bapak Jaka sedang melakukan pekerjaan di bagian atas jembatan. Diduga, ia terpeleset atau kehilangan keseimbangan saat sedang berada di area yang cukup tinggi, sehingga tanpa dapat dicegah, tubuhnya terjatuh bebas ke dalam arus deras Sungai Cisadane. Kejadian ini berlangsung begitu cepat dan mengejutkan, meninggalkan trauma mendalam bagi rekan-rekan kerja yang menyaksikan langsung momen mengerikan tersebut.

Jembatan Leuwikranji sendiri merupakan salah satu infrastruktur vital yang menghubungkan dua wilayah di tepi Sungai Cisadane, memiliki peran penting dalam mobilitas warga dan distribusi logistik. Sebagai jembatan tua yang telah beroperasi selama beberapa dekade, proyek renovasi ini sangat krusial untuk memastikan keamanan dan kelayakan struktur jembatan di masa mendatang. Pekerjaan renovasi seringkali melibatkan risiko tinggi, terutama ketika berhadapan dengan ketinggian dan lingkungan perairan. Oleh karena itu, insiden ini kembali menyoroti pentingnya penerapan standar keselamatan kerja yang ketat dan pengawasan yang berkelanjutan di setiap tahapan proyek konstruksi, demi mencegah terulangnya kejadian serupa.

Sungai Cisadane, tempat kejadian nahas ini berlangsung, adalah salah satu sungai besar di Provinsi Banten dan Jawa Barat yang mengalir hingga ke Laut Jawa. Sungai ini dikenal memiliki karakter yang dinamis, dengan debit air yang dapat berubah drastis terutama saat musim penghujan. Arus yang deras, kedalaman yang bervariasi, serta banyaknya material sedimen dan sampah yang terbawa aliran, menjadi faktor-faktor yang sangat menyulitkan operasi SAR. Di beberapa titik, keberadaan pusaran air dan palung-palung tersembunyi juga menambah kompleksitas pencarian. Selain itu, kondisi air yang keruh membatasi jarak pandang tim penyelam, sehingga sebagian besar upaya harus mengandalkan insting, pengalaman, dan teknologi pendukung seperti sonar.

Dalam upaya pencarian, tim SAR tidak hanya mengandalkan perahu karet dan penyisiran manual. Beberapa unit juga dilengkapi dengan alat selam untuk eksplorasi di bawah permukaan air, meskipun visibilitas yang rendah menjadi kendala utama. Drone pengawas juga diterjunkan untuk memetakan area pencarian dari udara, mengidentifikasi potensi lokasi tersangkutnya korban di tepian sungai atau di antara vegetasi padat yang sulit dijangkau dari darat. Sementara itu, komunikasi antar tim di lapangan terus berjalan intensif, memastikan setiap informasi atau temuan sekecil apa pun dapat segera dikoordinasikan untuk pengambilan keputusan taktis selanjutnya.

Koordinasi yang solid antarlembaga menjadi kunci keberhasilan operasi SAR semacam ini. BASARNAS sebagai koordinator utama mengerahkan sumber daya dan keahlian khusus dalam pencarian dan pertolongan, sementara BPBD setempat menyediakan dukungan logistik dan pengetahuan tentang kondisi geografis lokal. Personel TNI dan POLRI turut membantu dalam pengamanan area, pengaturan lalu lintas, serta penyediaan tenaga tambahan untuk penyisiran darat. Tidak ketinggalan, peran serta masyarakat dan organisasi relawan sangat vital, mereka membantu dalam penyediaan informasi, pemantauan di area-area tertentu, bahkan dukungan moral bagi tim yang bertugas di lapangan. Sinergi ini mencerminkan semangat gotong royong dalam menghadapi musibah.

Tantangan yang dihadapi tim SAR bukan hanya kondisi alam yang ekstrem, tetapi juga aspek psikologis. Setiap jam yang berlalu tanpa penemuan korban menambah beban emosional, baik bagi keluarga korban yang menunggu dengan cemas, maupun bagi para personel SAR yang terus berjuang tanpa kenal lelah. Cuaca yang tidak menentu, paparan sinar matahari terik, hingga guyuran hujan, adalah bagian dari risiko yang harus mereka hadapi setiap hari. Namun, semangat pantang menyerah dan harapan untuk dapat menemukan korban selalu menjadi pendorong utama bagi setiap anggota tim, mengingat setiap nyawa berharga dan keluarga korban berhak mendapatkan kepastian.

Kasus jatuhnya pekerja konstruksi ke sungai ini juga memicu kembali diskusi mendalam mengenai standar keselamatan kerja di Indonesia, khususnya untuk proyek-proyek infrastruktur yang berisiko tinggi. Perusahaan kontraktor dan pihak pengembang memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa setiap pekerja dilengkapi dengan peralatan pelindung diri (APD) yang memadai, termasuk pelampung keselamatan saat bekerja di dekat perairan. Selain itu, pelatihan keselamatan kerja yang komprehensif, pemasangan jaring pengaman, serta pengawasan ketat terhadap prosedur operasional standar (SOP) harus menjadi prioritas utama. Kejadian ini harus menjadi pelajaran berharga agar tidak ada lagi nyawa yang melayang akibat kelalaian dalam menjaga keselamatan di tempat kerja.

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8336600/tim-sar-lanjut-pencarian-pekerja-jembatan-yang-jatuh-ke-sungai-cisadane