News: Pasirlangu Mencekam Diterjang Banjir dan Longsor

Desa Pasirlangu, sebuah permata tersembunyi di kaki pegunungan Bandung Barat, tiba-tiba menjadi saksi bisu keganasan alam. Hujan deras yang tak henti-hentinya mengguyur selama berhari-hari menjelma menjadi bencana dahsyat, memicu banjir bandang dan tanah longsor yang meratakan rumah-rumah, melumpuhkan infrastruktur, serta merenggut ketenangan warga. Suasana duka dan keputusasaan menyelimuti desa yang sebelumnya tenteram, meninggalkan trauma mendalam bagi para penduduknya, terutama anak-anak yang harus menyaksikan kehancuran di depan mata mereka. Di tengah puing-puing dan lumpur yang menggunung, secercah harapan datang dari tangan-tangan kemanusiaan, diwakili oleh BRI Peduli, yang dengan sigap bergerak cepat memberikan bantuan esensial dan, yang tak kalah penting, dukungan psikologis melalui program trauma healing bagi generasi penerus Pasirlangu.

Bencana yang menimpa Pasirlangu bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan manifestasi kompleks dari curah hujan ekstrem yang diperparah oleh kondisi geografis daerah tersebut yang rentan. Lereng-lereng bukit yang labil, ditambah dengan kemungkinan deforestasi atau perubahan tata guna lahan di hulu, menciptakan kombinasi mematikan. Banjir bandang menerjang dengan kekuatan yang tak terbayangkan, menyeret material bangunan dan lumpur tebal, sementara tanah longsor membelah bukit dan menimbun apapun yang ada di jalurnya. Puluhan rumah rusak berat, bahkan ada yang rata dengan tanah, menyebabkan ratusan warga kehilangan tempat tinggal dan harta benda mereka dalam sekejap. Akses jalan terputus, jaringan listrik lumpuh, dan pasokan air bersih terhambat, mengisolasi Pasirlangu dari dunia luar dan memperparah penderitaan para korban. Seluruh sendi kehidupan masyarakat seolah berhenti, digantikan oleh perjuangan untuk bertahan hidup di tengah ketidakpastian.

Dampak bencana jauh melampaui kerusakan fisik semata. Kehilangan rumah, harta benda, dan bahkan orang-orang terkasih meninggalkan luka batin yang dalam. Bagi orang dewasa, beban psikologis berupa stres, kecemasan, dan depresi adalah hal yang umum terjadi pasca-bencana. Namun, bagi anak-anak, pengalaman traumatik ini bisa jauh lebih parah dan memiliki efek jangka panjang pada perkembangan mental dan emosional mereka. Melihat rumah mereka hancur, terpisah dari orang tua, atau menyaksikan kejadian mengerikan lainnya dapat memicu ketakutan, mimpi buruk, kesulitan tidur, hingga masalah perilaku. Mereka mungkin menarik diri, menjadi agresif, atau menunjukkan regresi perkembangan. Kebutuhan akan dukungan psikologis, khususnya bagi anak-anak, menjadi prioritas utama yang seringkali terabaikan di tengah hiruk pikuk upaya penyelamatan dan penyaluran bantuan fisik.

Menyadari urgensi tersebut, BRI Peduli, sebagai salah satu pilar Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, segera membentuk tim tanggap darurat dan meluncurkan aksi kemanusiaan di Pasirlangu. Tim ini bergerak cepat menembus medan yang sulit, membawa serta berbagai kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan para pengungsi. Bantuan yang disalurkan meliputi bahan makanan siap saji, beras, mi instan, air mineral, selimut, pakaian layak pakai, perlengkapan mandi, dan obat-obatan dasar. Penyaluran bantuan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya konkret untuk meringankan beban penderitaan warga, memastikan mereka mendapatkan nutrisi dan perlindungan dasar di masa-masa kritis. Koordinasi yang efektif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan relawan menjadi kunci keberhasilan penyaluran bantuan hingga ke titik-titik pengungsian yang terpencil.

Namun, BRI Peduli memahami bahwa penyediaan kebutuhan dasar saja tidak cukup untuk memulihkan kondisi masyarakat Pasirlangu secara menyeluruh. Oleh karena itu, sebuah inisiatif yang lebih mendalam dan menyentuh hati pun digagas: program trauma healing khusus untuk anak-anak korban bencana. Program ini dirancang dengan pendekatan yang lembut dan menyenangkan, bertujuan untuk membantu anak-anak memproses pengalaman traumatis mereka melalui kegiatan yang kreatif dan interaktif. Para psikolog dan relawan terlatih bekerja sama dengan anak-anak melalui sesi bercerita, menggambar, bermain, dan bernyanyi. Melalui kegiatan-kegiatan ini, anak-anak diajak untuk mengekspresikan perasaan mereka, berbagi pengalaman, dan secara bertahap membangun kembali rasa aman dan kepercayaan diri yang mungkin terkikis oleh bencana. Senyum dan tawa yang kembali merekah di wajah-wajah mungil mereka adalah bukti nyata efektivitas program ini, sebuah oase di tengah gurun kepedihan.

Program trauma healing ini bukan hanya sekadar hiburan, melainkan sebuah intervensi terapeutik yang esensial. Dengan memfasilitasi ekspresi emosi dan memberikan ruang aman bagi anak-anak untuk berinteraksi, para relawan membantu mereka mengurangi tingkat kecemasan dan stres pasca-trauma. Psikolog yang mendampingi juga memberikan edukasi kepada orang tua dan pengasuh tentang cara mendukung anak-anak dalam proses pemulihan, mengenali tanda-tanda trauma yang mungkin muncul, dan membangun lingkungan yang suportif di pengungsian atau tempat tinggal sementara. Diharapkan, dengan penanganan dini dan tepat, dampak psikologis jangka panjang dari bencana dapat diminimalisir, memungkinkan anak-anak Pasirlangu untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, terlepas dari bayang-bayang masa lalu yang kelam.

Bencana alam seperti yang terjadi di Pasirlangu adalah realitas yang seringkali tak terhindarkan di Indonesia. Sebagai negara yang terletak di Cincin Api Pasifik, Indonesia sangat rentan terhadap gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, dan tanah longsor. Setiap tahun, puluhan bahkan ratusan bencana menghantam berbagai wilayah, meninggalkan jejak kehancuran dan penderitaan. Fenomena perubahan iklim global juga turut memperparah intensitas dan frekuensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, yang kini menjadi ancaman yang semakin nyata bagi banyak komunitas, terutama yang tinggal di daerah-daerah rawan. Kasus Pasirlangu menjadi pengingat betapa pentingnya kesiapsiagaan bencana, mitigasi risiko, dan respons cepat yang terkoordinasi dari seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan organisasi kemanusiaan.

Dalam konteks ini, peran Corporate Social Responsibility (CSR) dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti BRI menjadi sangat vital. Lebih dari sekadar mencari keuntungan, BUMN memiliki tanggung jawab sosial yang melekat untuk berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat dan lingkungan. BRI Peduli adalah manifestasi dari komitmen tersebut, menunjukkan bahwa entitas bisnis dapat menjadi agen perubahan positif, terutama di masa-masa sulit. Bantuan yang diberikan bukan hanya sekadar donasi, melainkan investasi dalam kemanusiaan, dalam membangun kembali harapan, dan dalam memperkuat ketahanan komunitas. Kehadiran BRI Peduli di Pasirlangu menegaskan bahwa solidaritas dan empati adalah kunci untuk bangkit dari keterpurukan, dan bahwa kekuatan kolektif dapat mengubah kehancuran menjadi momentum untuk membangun kembali yang lebih baik.

Respons cepat dan terukur dari BRI Peduli juga mencerminkan semangat "Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh" yang selalu digaungkan. Ini adalah bukti bahwa sektor swasta, khususnya BUMN, tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan sosial dan lingkungan. Program trauma healing khususnya, menunjukkan pemahaman yang mendalam bahwa pemulihan pasca-bencana tidak hanya tentang fisik, tetapi juga mental dan spiritual. Anak-anak adalah masa depan bangsa, dan memastikan mereka pulih dari trauma adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai harganya. Melalui pendekatan holistik ini, BRI Peduli tidak hanya menjadi penyedia bantuan, tetapi juga pendamping setia dalam perjalanan panjang Pasirlangu menuju pemulihan penuh.

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8336608/bri-peduli-dampingi-anak-anak-korban-longsor-di-bandung-barat