Megawati Tegaskan Keteguhan Wujudkan Indonesia Sejati di Abu Dhabi

DESC: Megawati Soekarnoputri kunjungi KBRI Abu Dhabi, menyerukan keteguhan dalam membangun 'Indonesia Sejati' berlandaskan Pancasila. Pesan ini relevan bagi diaspora dan bangsa.
KEYWORDS: Megawati Soekarnoputri, KBRI Abu Dhabi, Indonesia Sejati, Keteguhan, Pancasila, Diaspora Indonesia, Uni Emirat Arab, Diplomasi Indonesia

ARTICLE:

Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) sekaligus Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri, belum lama ini melawat ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dalam kunjungan penting tersebut, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai esensi keteguhan dan konsistensi sebagai fondasi utama dalam mewujudkan visi luhur ‘Indonesia Sejati’. Pesan ini, yang sarat akan nilai-nilai kebangsaan dan historis, ditujukan tidak hanya kepada para diplomat dan staf KBRI, tetapi juga kepada seluruh diaspora Indonesia di tanah rantau, menekankan pentingnya peran mereka dalam menjaga dan memajukan identitas bangsa di kancah global.

Daftar Isi

Latar Belakang Kunjungan dan Konteks Geopolitik

Kunjungan Megawati Soekarnoputri ke KBRI Abu Dhabi bukan sekadar kunjungan protokoler biasa. Sebagai figur sentral dalam politik Indonesia dan putri Proklamator Soekarno, setiap langkah dan pernyataannya memiliki bobot politik dan ideologis yang signifikan. Kunjungan ini berlangsung di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks, di mana negara-negara dituntut untuk semakin memperkuat jati diri dan kemandiriannya.

Uni Emirat Arab (UEA) sendiri merupakan salah satu mitra strategis Indonesia di kawasan Timur Tengah. Hubungan bilateral antara kedua negara telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, mencakup berbagai sektor mulai dari ekonomi, investasi, energi, hingga pariwisata. Kehadiran Megawati di KBRI Abu Dhabi menegaskan kembali pentingnya peran perwakilan diplomatik sebagai garda terdepan dalam menjaga kepentingan nasional dan mempererat hubungan antarnegara.

Dalam konteks domestik, kunjungan ini juga bisa dilihat sebagai bagian dari upaya konsolidasi ideologis dan penguatan narasi kebangsaan, khususnya menjelang momen-momen politik penting di Indonesia. Megawati, melalui posisinya sebagai Ketua Umum partai politik terbesar di Indonesia, memiliki kapasitas untuk memengaruhi arah diskursus nasional dan mengingatkan kembali pada fondasi-fondasi negara yang seringkali tergerus oleh hiruk-pikuk politik praktis.

Perjalanan seorang tokoh sekaliber Megawati ke luar negeri selalu mengundang perhatian, tidak hanya dari komunitas Indonesia di sana, tetapi juga dari media dan pengamat politik. Pesan yang disampaikan di KBRI Abu Dhabi ini secara spesifik menyoroti keteguhan, sebuah kualitas yang dianggap krusial untuk menghadapi berbagai tantangan, baik dari dalam maupun luar negeri.

Memaknai ‘Indonesia Sejati’ ala Megawati

Frasa ‘Indonesia Sejati’ yang diusung oleh Megawati bukanlah sekadar jargon kosong, melainkan sebuah refleksi mendalam terhadap cita-cita luhur pendiri bangsa. Konsep ini sangat erat kaitannya dengan visi Bung Karno tentang Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian. ‘Indonesia Sejati’ merujuk pada sebuah bangsa yang kokoh pada ideologi Pancasila, menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, serta memiliki ketahanan di segala bidang kehidupan.

Pancasila, sebagai dasar negara, menjadi pilar utama dalam mewujudkan ‘Indonesia Sejati’. Ini berarti bangsa Indonesia harus teguh pada nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial. Keteguhan dalam memegang teguh Pancasila menjadi krusial di era globalisasi, di mana berbagai ideologi dan pengaruh asing mudah masuk dan berpotensi mengikis identitas bangsa.

Selain Pancasila, ‘Indonesia Sejati’ juga mencakup kemandirian ekonomi. Ini adalah amanat Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Megawati sering menekankan bahwa kemandirian ekonomi bukan berarti menutup diri dari dunia luar, melainkan kemampuan untuk mengelola sumber daya sendiri demi kesejahteraan rakyat, tanpa terlalu bergantung pada pihak asing yang dapat mendikte kebijakan nasional.

Aspek kepribadian dalam kebudayaan juga menjadi penekanan penting. ‘Indonesia Sejati’ adalah bangsa yang bangga akan warisan budayanya yang beragam, melestarikannya, dan mengembangkannya sebagai kekuatan lunak di mata dunia. Ini termasuk bahasa, adat istiadat, seni, dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keteguhan dalam menjaga kepribadian budaya berarti menolak arus homogenisasi budaya global yang dapat menghilangkan kekayaan lokal.

Megawati, sebagai pewaris ideologis Soekarno, secara konsisten menyuarakan pentingnya kembali ke akar-akar kebangsaan ini. Baginya, ‘Indonesia Sejati’ adalah fondasi untuk menghadapi segala bentuk tantangan zaman, baik itu disrupsi teknologi, krisis ekonomi, maupun polarisasi sosial. Tanpa fondasi yang kuat, sebuah bangsa akan mudah goyah dan kehilangan arah.

Peran Keteguhan dalam Pembangunan Bangsa

Pesan Megawati tentang “keteguhan” mengandung makna yang sangat dalam dan multidimensional. Keteguhan bukan hanya tentang kekukuhan atau kekerasan hati, melainkan lebih pada konsistensi, integritas, dan keberanian untuk memegang teguh prinsip-prinsip kebangsaan di tengah berbagai godaan dan tantangan. Dalam konteks pembangunan bangsa, keteguhan ini sangat diperlukan di berbagai lini.

Pertama, keteguhan dalam ideologi. Indonesia sebagai negara Pancasila menghadapi berbagai upaya pendistorsian ideologi, baik dari paham-paham radikal maupun liberalisme ekstrem. Keteguhan berarti tidak kompromi terhadap upaya-upaya yang ingin mengganti atau melemahkan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara.

Kedua, keteguhan dalam kebijakan publik. Pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan kebijakan yang konsisten dan berorientasi jangka panjang, tidak mudah berubah karena tekanan sesaat atau kepentingan politik pragmatis. Keteguhan ini diperlukan dalam merumuskan dan melaksanakan program-program strategis, seperti pembangunan infrastruktur, reformasi birokrasi, atau pengentasan kemiskinan.

Ketiga, keteguhan dalam menjaga kedaulatan. Di tengah persaingan geopolitik dan geoeleonomi global, banyak negara-negara besar yang berupaya memengaruhi kebijakan dalam negeri Indonesia. Keteguhan berarti berani mengatakan “tidak” terhadap intervensi asing yang merugikan kepentingan nasional, serta tetap teguh pada prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Keempat, keteguhan dalam integritas dan anti-korupsi. Keteguhan moral dari para pemimpin dan aparat negara sangat esensial untuk membangun pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Tanpa keteguhan ini, praktik korupsi akan terus menggerogoti sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara, menghambat pemerataan kesejahteraan.

Kelima, keteguhan dalam menghadapi tantangan sosial. Isu-isu seperti intoleransi, diskriminasi, dan polarisasi sosial memerlukan keteguhan dari seluruh elemen masyarakat untuk terus mempromosikan persatuan, toleransi, dan keadilan. Keteguhan berarti tidak mudah terpecah belah oleh provokasi dan tetap berpegang pada semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Megawati menekankan bahwa keteguhan ini harus dimiliki oleh setiap individu, mulai dari pemimpin tertinggi hingga masyarakat biasa, termasuk diaspora yang berada di luar negeri. Ini adalah panggilan untuk kembali memperkuat fondasi moral dan spiritual bangsa, memastikan bahwa arah pembangunan Indonesia tetap sejalan dengan cita-cita para pendiri negara.

Poin Penting Pesan Megawati

Dalam kunjungan dan pidatonya di KBRI Abu Dhabi, Megawati Soekarnoputri menyampaikan beberapa poin kunci yang menjadi inti pesannya. Poin-poin ini mencerminkan visinya terhadap masa depan Indonesia dan peranan seluruh elemen bangsa di dalamnya:

  • Pentingnya Menjaga Identitas Kebangsaan di Perantauan: Megawati mengingatkan bahwa meskipun berada jauh dari tanah air, diaspora Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk tetap melestarikan budaya, bahasa, dan nilai-nilai Pancasila. Mereka adalah duta bangsa yang merepresentasikan Indonesia di mata dunia.
  • Peran Strategis Diaspora dalam Diplomasi Lunak dan Ekonomi: Diaspora tidak hanya menjadi sumber devisa melalui remitansi, tetapi juga agen diplomasi lunak yang memperkenalkan kekayaan budaya dan potensi Indonesia. Keberadaan mereka dapat memperkuat jaringan ekonomi dan sosial Indonesia di tingkat global.
  • Keteguhan sebagai Fondasi dalam Menghadapi Tantangan Global: Di tengah arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan krisis multidimensional, keteguhan diperlukan untuk menjaga kedaulatan, kemandirian, dan jati diri bangsa. Tanpa keteguhan, Indonesia akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan asing.
  • Mewujudkan ‘Indonesia Sejati’ melalui Kolaborasi Lintas Sektor: Visi ‘Indonesia Sejati’ hanya dapat terwujud jika seluruh komponen bangsa, baik di dalam maupun luar negeri, bersatu dan berkolaborasi. Ini mencakup pemerintah, swasta, akademisi, masyarakat sipil, dan diaspora.
  • Nilai-nilai Pancasila sebagai Pedoman Hidup dan Bernegara: Pancasila harus menjadi kompas dalam setiap langkah dan kebijakan, baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Mengimplementasikan Pancasila secara konsekuen adalah wujud nyata dari keteguhan.
  • Meningkatkan Rasa Cinta Tanah Air dan Nasionalisme: Pesan Megawati juga merupakan seruan untuk terus memupuk rasa cinta tanah air dan nasionalisme yang kuat, terutama di kalangan generasi muda, agar mereka tidak melupakan sejarah dan perjuangan para pendiri bangsa.

Kontribusi Diaspora: Duta Bangsa di Kancah Global

Salah satu fokus utama pesan Megawati adalah peran vital diaspora Indonesia. Kelompok Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di luar negeri ini bukan hanya sekadar individu yang mencari penghidupan, melainkan aset strategis bangsa. Mereka adalah “duta-duta tak resmi” yang secara langsung maupun tidak langsung berkontribusi pada kemajuan Indonesia.

Kontribusi diaspora dapat dilihat dari beberapa aspek. Pertama, ekonomi. Remitansi atau kiriman uang dari para pekerja migran dan profesional di luar negeri menjadi salah satu sumber devisa negara yang signifikan. Dana ini membantu menggerakkan roda perekonomian di kampung halaman, meningkatkan daya beli, dan mengurangi kemiskinan.

Kedua, diplomasi lunak (soft diplomacy). Keberadaan diaspora yang berintegrasi dengan baik di masyarakat lokal negara tempat mereka tinggal dapat membangun citra positif Indonesia. Mereka memperkenalkan budaya, keramahan, dan nilai-nilai luhur Indonesia kepada dunia. Melalui festival budaya, kuliner, atau interaksi sehari-hari, mereka menjadi jembatan antarbudaya yang efektif.

Ketiga, transfer pengetahuan dan teknologi. Banyak diaspora Indonesia yang berprofesi sebagai ilmuwan, peneliti, profesional di bidang teknologi tinggi, atau pengusaha sukses. Mereka membawa pulang keahlian, inovasi, dan jaringan internasional yang dapat memperkaya kapasitas nasional Indonesia dalam berbagai sektor.

Keempat, penguatan jaringan global. Diaspora yang tersebar di berbagai belahan dunia membentuk jaringan yang kuat. Jaringan ini bisa dimanfaatkan untuk memfasilitasi perdagangan, investasi, pariwis, atau bahkan advokasi kepentingan Indonesia di forum-forum internasional.

Megawati menegaskan bahwa diaspora perlu menjaga keteguhan identitas kebangsaan mereka. Di tengah paparan budaya dan nilai-nilai asing, penting bagi mereka untuk tidak melupakan akar budaya dan ideologi Pancasila. KBRI sebagai representasi negara, memiliki peran penting dalam memfasilitasi dan membina diaspora agar tetap terhubung dengan tanah air, serta membantu mereka dalam menghadapi berbagai tantangan di negara tempat mereka tinggal.

Hubungan Bilateral Indonesia-Uni Emirat Arab

Kunjungan Megawati Soekarnoputri ke Abu Dhabi juga secara tidak langsung menyoroti eratnya hubungan bilateral antara Indonesia dan Uni Emirat Arab. Kedua negara telah menjalin kerja sama yang kuat di berbagai sektor, mencerminkan kemitraan strategis yang saling menguntungkan. UEA, sebagai salah satu kekuatan ekonomi di Timur Tengah, adalah mitra penting bagi Indonesia dalam upaya diversifikasi ekonomi dan peningkatan investasi.

Hubungan ini tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi, tetapi juga merambah ke bidang energi, pariwisata, pendidikan, hingga pertahanan. Banyak proyek-proyek besar di Indonesia yang menarik minat investor dari UEA, salah satunya adalah melalui Indonesia Investment Authority (INA) yang telah menjalin kemitraan dengan dana investasi dari UEA. Hal ini menunjukkan kepercayaan UEA terhadap potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain itu, jumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja atau tinggal di UEA cukup signifikan, menjadikan mereka sebagai jembatan sosial dan budaya antara kedua negara. UEA menawarkan peluang kerja yang luas bagi tenaga profesional dan pekerja migran Indonesia, yang pada gilirannya memberikan kontribusi besar bagi ekonomi Indonesia melalui remitansi.

Pemerintah kedua negara juga aktif dalam mempromosikan pariwisata dan pertukaran budaya. Maskapai penerbangan langsung dan kebijakan visa yang semakin ramah telah meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan dari kedua arah. Hal ini memperkaya pemahaman dan apresiasi antarbudaya.

Salah satu tonggak penting dalam hubungan bilateral ini adalah penandatanganan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) antara Indonesia dan UEA. Perjanjian ini diharapkan dapat semakin meningkatkan volume perdagangan dan investasi antara kedua negara, membuka pasar baru, dan menciptakan peluang bisnis yang lebih besar bagi para pelaku usaha.

Berikut adalah tabel ringkasan data dan fakta penting mengenai hubungan bilateral Indonesia-Uni Emirat Arab:

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8337769/pesan-membangun-indonesia-sejati-dari-megawati-di-kbri-abu-dhabi