Megawati Perkuat Diplomasi Budaya Lewat Museum Zayed Abu Dhabi

Megawati Perkuat Diplomasi Budaya Lewat Museum Zayed Abu Dhabi

Dalam sebuah langkah yang menegaskan komitmen Indonesia terhadap penguatan hubungan bilateral dan diplomasi budaya, Ketua Umum PDI Perjuangan sekaligus Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri, belum lama ini melangsungkan kunjungan kerja penting di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Kunjungan ini, yang sarat akan makna strategis, tidak hanya berfokus pada agenda-agenda kenegaraan dan ekonomi, melainkan juga menyoroti dimensi kebudayaan sebagai jembatan persahabatan antar bangsa. Salah satu agenda utama yang menarik perhatian adalah undangan khusus yang disampaikan oleh seorang Menteri Negara UEA kepada Megawati untuk berkunjung ke Museum Nasional Zayed, sebuah ikon budaya dan sejarah yang menjadi kebanggaan negara petro-dolar tersebut. Undangan ini bukan sekadar ajakan biasa, melainkan sebuah gestur diplomatik yang mendalam, menunjukkan penghargaan UEA terhadap sosok Megawati dan kesediaannya untuk berbagi kekayaan warisan budaya yang mereka miliki.

Kehadiran Megawati Soekarnoputri di kancah diplomasi internasional selalu menarik perhatian, mengingat rekam jejaknya sebagai mantan kepala negara dan figur politik yang sangat berpengaruh di Indonesia. Sebagai putri Proklamator Soekarno, warisan politik dan visinya terhadap Indonesia seringkali menjadi landasan dalam setiap interaksinya dengan pemimpin dunia. Kunjungan Megawati ke Abu Dhabi kali ini, meskipun bukan dalam kapasitas resmi sebagai kepala negara, tetap membawa bobot representasi yang kuat bagi Indonesia. Perannya sebagai Ketua Umum partai politik terbesar di Indonesia, PDI Perjuangan, memberikan legitimasi politik yang tak terbantahkan, memungkinkannya untuk menjalin komunikasi strategis dan membuka jalur-jalur kerjasama yang mungkin tidak terjangkau melalui saluran diplomasi formal semata. Kehadirannya di UEA mencerminkan upaya berkelanjutan Indonesia untuk memperluas jejaring persahabatan dan kerjasama di berbagai sektor, dari ekonomi hingga budaya, dengan salah satu negara paling dinamis di Timur Tengah.

Undangan dari Menteri Negara UEA untuk Megawati Soekarnoputri menunjukkan bagaimana UEA, khususnya Abu Dhabi, memandang pentingnya pertukaran budaya dalam membangun hubungan yang kokoh. UEA telah lama dikenal sebagai pusat perdagangan dan inovasi, namun dalam beberapa dekade terakhir, negara ini juga gencar mempromosikan dirinya sebagai pusat kebudayaan global, dengan investasi besar dalam pembangunan museum, galeri seni, dan festival budaya bertaraf internasional. Seorang Menteri Negara, yang seringkali memiliki portofolio khusus dalam urusan luar negeri, kerjasama internasional, atau kebudayaan, sangat memahami nilai strategis dari diplomasi budaya. Dengan mengundang seorang tokoh sekaliber Megawati ke Museum Nasional Zayed, UEA tidak hanya menampilkan salah satu permata budayanya, tetapi juga secara tidak langsung menyampaikan pesan tentang identitas nasional, nilai-nilai, dan visi masa depan mereka. Ini adalah cara elegan untuk mempererat ikatan, melampaui sebatas negosiasi ekonomi atau politik, dan menyentuh ranah pemahaman antar peradaban.

Museum Nasional Zayed sendiri adalah sebuah mahakarya arsitektur dan pusat kebudayaan yang megah, didedikasikan untuk mengenang dan merayakan kehidupan serta warisan Bapak Pendiri UEA, Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan. Berlokasi di Pulau Saadiyat, sebuah pulau yang ditetapkan sebagai pusat budaya dan seni kelas dunia di Abu Dhabi, museum ini bukan hanya sekadar tempat penyimpanan artefak, melainkan sebuah narasi hidup tentang sejarah, budaya, dan visi UEA. Konsep pembangunannya dirancang untuk mencerminkan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh Sheikh Zayed: pendidikan, lingkungan, keberlanjutan, persatuan, dan keterbukaan terhadap dunia. Melalui berbagai pameran interaktif dan koleksi yang kaya, museum ini berusaha untuk menceritakan kisah perjalanan UEA dari sebuah gurun pasir yang terpencil menjadi negara modern yang maju, sambil tetap memegang teguh akar dan tradisi budayanya. Kunjungan ke museum ini menawarkan pengalaman mendalam yang melampaui sekadar melihat-lihat objek, melainkan sebuah perjalanan untuk memahami jiwa sebuah bangsa.

Arsitektur Museum Nasional Zayed sangat ikonik, dirancang oleh firma arsitek terkemuka Foster + Partners, yang terkenal dengan desain-desain futuristik dan berkelanjutan. Bangunan ini menampilkan lima menara baja ringan yang terinspirasi dari sayap elang, simbol nasional UEA yang melambangkan kekuatan, keberanian, dan visi. Setiap "sayap" memiliki fungsi sebagai cerobong asap termal yang memanfaatkan konveksi alami untuk mendinginkan galeri-galeri di bawahnya, sebuah contoh brilian dari desain berkelanjutan yang selaras dengan lingkungan gurun. Di dalam museum, pengunjung dapat menjelajahi galeri-galeri tematik yang mencakup berbagai aspek kehidupan dan warisan Sheikh Zayed, mulai dari masa kecilnya, kepemimpinannya dalam menyatukan emirat-emirat, hingga visi besarnya untuk masa depan. Pameran juga menyoroti kekayaan alam UEA, warisan Islam, dan interaksi budaya dengan peradaban lain sepanjang sejarah, menjadikannya sebuah pusat pembelajaran yang komprehensif dan inspiratif bagi siapa pun yang berkunjung.

Bagi Megawati Soekarnoputri, kunjungan ke Museum Nasional Zayed bukan hanya sekadar kegiatan rekreasi, melainkan sebuah kesempatan untuk memahami lebih dalam fondasi ideologi dan narasi kebangsaan UEA. Mempelajari visi seorang bapak pendiri seperti Sheikh Zayed, yang berhasil menyatukan suku-suku dan emirat yang berbeda menjadi sebuah negara modern, tentunya memiliki resonansi tersendiri bagi Megawati, mengingat peran serupa yang dimainkan oleh ayahnya, Soekarno, dalam mendirikan dan menyatukan Indonesia. Museum ini berfungsi sebagai alat diplomasi budaya yang sangat efektif, memungkinkan para pemimpin dan delegasi asing untuk mengapresiasi nilai-nilai inti sebuah negara melalui lensa sejarah dan seni. Pertukaran semacam ini sangat penting dalam membangun jembatan pemahaman dan rasa hormat antarnegara, melampaui negosiasi politik dan ekonomi semata. Ini adalah investasi jangka panjang dalam hubungan bilateral yang didasarkan pada apresiasi mutual terhadap identitas dan aspirasi masing-masing bangsa.

Megawati Perkuat Diplomasi Budaya Lewat Museum Zayed Abu Dhabi

Hubungan antara Indonesia dan Uni Emirat Arab memiliki akar sejarah yang cukup panjang, ditandai oleh ikatan agama, budaya, dan perdagangan yang telah terjalin selama berabad-abad. Jauh sebelum era modern, jalur perdagangan maritim telah menghubungkan kepulauan Nusantara dengan Semenanjung Arab, memfasilitasi pertukaran barang, ide, dan terutama penyebaran agama Islam. Pada era modern, hubungan diplomatik formal mulai terjalin, dan seiring waktu, kedua negara telah memperkuat kerjasama di berbagai bidang. UEA, dengan pertumbuhan ekonominya yang pesat dan visinya yang ambisius, melihat Indonesia sebagai mitra strategis yang penting di Asia Tenggara, sebuah pasar besar dengan potensi ekonomi yang luar biasa dan populasi Muslim terbesar di dunia. Sebaliknya, Indonesia memandang UEA sebagai gerbang menuju Timur Tengah dan Afrika, serta sumber investasi dan teknologi yang menjanjikan. Kunjungan Megawati ini menegaskan kembali fondasi hubungan yang kuat ini dan membuka babak baru dalam kolaborasi strategis.

Dalam dekade terakhir, kerjasama ekonomi antara Indonesia dan UEA telah mengalami peningkatan yang signifikan. UEA, melalui dana investasi negara dan perusahaan-perusahaan besar, telah banyak berinvestasi di Indonesia, terutama di sektor infrastruktur, energi terbarukan, pariwis, dan logistik. Contohnya adalah partisipasi aktif UEA dalam proyek-proyek strategis di Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dan daya saing ekonomi. Volume perdagangan bilateral terus meningkat, mencakup berbagai komoditas mulai dari produk pertanian, minyak dan gas, hingga barang manufaktur. Kedua negara juga aktif menjajaki potensi kerjasama di sektor-sektor baru seperti ekonomi digital, teknologi finansial, dan industri halal, yang memiliki potensi besar untuk pertumbuhan di masa depan. Kunjungan tokoh penting seperti Megawati seringkali menjadi katalisator untuk mempercepat diskusi dan realisasi proyek-proyek kerjasama ekonomi ini, memberikan sinyal positif bagi investor dan pelaku bisnis.

Di samping aspek ekonomi, Indonesia dan UEA juga memiliki kesamaan pandangan dalam banyak isu geopolitik dan multilateral. Kedua negara adalah anggota aktif dari berbagai forum internasional dan regional, seringkali menyuarakan posisi yang selaras dalam upaya menjaga perdamaian, stabilitas, dan mempromosikan pembangunan berkelanjutan. Sebagai negara dengan populasi Muslim yang besar, keduanya juga memainkan peran penting dalam diplomasi Islam, mempromosikan nilai-nilai moderasi dan toleransi. UEA, dengan posisinya sebagai negara maju di Timur Tengah, dan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, secara kolektif dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap tatanan global yang lebih adil dan seimbang. Kunjungan Megawati juga dapat menjadi platform untuk membahas isu-isu regional dan global yang menjadi perhatian bersama, memperkuat koordinasi dan kerjasama dalam forum-forum internasional.

[P11]

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8335965/menteri-negara-uea-undang-megawati-berkunjung-ke-museum-nasional-zayed