KECERDASAN SISWA, PENGERTIAN DAN BENTUK BENTUK KECERDASAN

pengertian kecerdasan

PENGERTIAN ATAU DEFINISI KECERDASAN

Interaksi manusia dengan sesamanya sangat dipengaruhi oleh kesanggupannya dalam berfikir yang biasa disebut kecerdasan/inteligensi. Inteligensi seseorang akan tampak pada perbuatannya. Inteligensi setiap individu berbeda-beda. Oleh karena itu, kita perlu mengenali dengan betul dibidang apa kecerdasan yang kita miliki. Misalnya, orang tua siswa berasumsi bahwa anak yang pintar ialah yang menguasai ilmu pasti.Maka dari itu, si anak harus masuk jurusan ilmu alam. Padahal,  si anak lebih mampu dan berminat di bidang ilmu sosial. Mindset inilah yang perlu dibenahi.Kecerdasan tidak hanya dipengaruhi oleh nilai prestasi akademik tapi juga minat seseorang.

Menurut bahasa, pengertian kecerdasan atau inteligensi siswa diartikan sebagai kemampuan umum dalam memahami hal-hal yang abstrak. Sedangkan Menurut istilah, inteligensi didefinisikan sebagai kesanggupan seseorang untuk beradaptasi dengan berbagai situasi dan dapat diabstraksikan pada suatu kualitas yang sama.

===========================================

===========================================

Menurut Gardner (Linda Campbell, Dee Dickinson, 2002) kecerdasan merupakan menjadi berikut :

  1. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia
  2. Kemampuan untuk menghasilkan pesoalan-persoalan baru untuk diselesaikan
  3. Kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang.

Sedangkan menurut  Suharsono ( 2002 :43 ), pengertian kecerdasan adalah “kemampuan memecahkan masalah secara benar, yang relative lebih cepat dibandingkan dengan usia biologisnya “.

Sedangkan menurut William Stern, pengertian kecerdasan atau inteligensi adalah kesanggupan jiwa untuk menghadapi dan mengatasi kesulitan-kesulitan baru dengan sadar, dengan berfikir cepat dan tepat.

MACAM-MACAM KECERDASAN

Theory of Multiple Intelegence  yang dikemukakan oleh Gardner (Linda Campbell,Dee Dickinson, 2002 ) menjelaskan bahwa kecerdasan itu terdiri dari 7 ( tujuh ) tife kecerdasan yaitu :

1) Linguistik Intelegence ( kecerdasan Lingusitik ), merupakan kemampuan untuk berpikir pada bentuk istilah-istilah dan menggunakan bahasa buat mengekspresikan & menghargai makna yang kompleks. Para pengarang, penyiar informasi , penyair, jurnalis ; memiliki kecerdasan linguistic ).

2) Logical Matematical Intelegence ( kecerdasan logika matematika ) adalah kemampuan pada menghitung, mengukur & membuatkan proposisi & hifothesis serta merampungkan operasi-operasi matematis.

Tiga) Spatial Intelegence ( Kecerdasan spasial ) membangkitkan kafasitas berpikir pada tiga cara dimensi seperti yg bisa dilakukan pelaut, pilot, pemahat, pelukis. Kecerdasan ini memungkinkan seorang untuk merasakan bayangan eksternal dan Internal, melukiskan pulang, merubah, atau memodifikasi bayangan, mengemudikan diri sendiri & obyek melalui ruangan dan membentuk atau menguraikan fakta grafik.

4) Bodily ? Kinesthetic Intelegence ( kecerdasan kinestetik-tubuh ) memungkinkan seseorang buat menggerakan obyek dan keterampilan-keterampilan fisik yang halus. Jelas kelihatan pada diri atlet, penari, ahli bedah , & artis yang mempunyai keterampilan teknik.

5) Musical Intelegence ( kecerdasan musik ) jelas kelihatan pada seorang yang mempunyai sensitifitas pada pola titi nada , melodi, ritme dan nada.

6) Kecerdasan interpersonal intelegence ( kecerdasan interpersonal ) adalah kemampuan buat tahu dan berinteraksi menggunakan orang lain secara efektif. Hal ini terlihat pada pengajar, pekerja social, artis atau politisi yang sukses.

7) Intra personal Intelegence ( Kecerdasan Intrapersonal ) merupakan kemampuan buat menciptakan persepsi yg seksama buat diri sendiri dan menggunakan pengetahuan semacama itu dalam merencanakan & mengarahkan kehidupan seorang. Beberapa individu yang memiliki kecerdasan semacam ini merupakan ahli ilmu agama, pakar fsikologi & ilmu filsafat.

Apabila diperhatikan secara cermat  teori tentang Multiple  Intelegence, sebenarnya merupakan fungsi dari dua belahan otak kita , yakni otak kanan ( right brain dan otak kiri ( left brain ) Otak kiri memiliki kemampuan  dan potensi untuk memecahkan problem matematika, logis dan fenomenal. Sedangkan otak kanan memiliki kemampuan untuk merespon hal – hal yang bersifat artistic dan abstrak.

Sedangkan Soesarsono & Ma?Mun Sukma ( 2002 ), klasifikasikan Kecerdasan terdiri dari 4 ( empat jenis / macam kecerdasan )

yaitu :

( 1 ) kecerdasan nalar atau daya piker ( IQ )

( 2 ) kecerdasan Emosional ( daya hati atau qolbu, EQ )

( tiga ) kecerdasan Adversity ( AQ )

( 4 ) kecerdasan  Finansial ( FQ )

Thomas Amstrong dalam bukunya “ Membangkitkan Kecerdasan Dalam Kelas ” :  (Zulfikri Anas ;2006 ) menyatakan; ada 12 ciri kejeniusan manusia yaitu : rasa ingin tahu, jenaka, imajinasi, kreatif, ketakjuban, bijaksana, penuh daya cipta, vitalitas, peka, fleksible, lucu dan gembira. Bahkan menurut Amstrong, kejeniusan itu sendiri adalah “ melahirkan kegembiraan “ Asal kata Yunani atau Latin yang berarti memperanakan atau dilahirkan atau kejadian “.

HAL ? HAL YANG MEMPENGARUHI KECERDASAN

Menurut Antonius Atosokhi, dan Yohanes Babari ( 2003 ), Bakat atau kecerdasan pada pengaruhi oleh hal ? Hal sebagai berikut :

  • Unsur Genetik; Faktor genetik memegang peranan utama. Faktor biologi ini sangat berhubungan dengan fungsi otak. Bila otak kiri yang dominan, segala tindakan dan pekerjaan adalah berhubungan dengan masalah verbal, intelektual, teratur rapi dan logis. Sedangkan otak kanan berhubungan dengan masalah spasial, non verbal, estetik dan artistik serta atletis.
  • Latihan ; pengembangan bakat dipengaruhi oleh frekuensi latihan. Kita baru dapat membedakan berbakat atau tidak setelah serangkaian latihan dimana mereka yang memiliki kecerdasan atau bakat akan lebih cepat menguasai hal tersebut.

TENTANG KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) DAN KECERDASAN SPIRITUAL (SQ)

Kecerdasan adalah galat satu pemberian besar dari Allah SWT kepada manusia dan menjadikannya sebagai galat satu kelebihan manusia dibandingkan menggunakan makhluk lainnya. Dengan kecerdasannya, insan dapat terus menerus mempertahankan & menaikkan kualitas hidupnya yg semakin kompleks, melalui proses berfikir & belajar secara terus menerus.

Dalam pandangan psikologi, sesungguhnya fauna pun diberikan kecerdasan tetapi pada kapasitas yang sangat terbatas. Oleh karena itu buat mempertahankan keberlangsungan hidupnya lebih poly dilakukan secara instingtif (naluriah).

Secara antropologi, kita mengetahui bahwa jutaan tahun yang lalu di muka bumi ini pernah hayati makhluk yang dinamakan Dinosaurus yaitu sejenis hewan yang secara fisik jauh lebih akbar dan bertenaga dibandingkan dengan insan. Namun ketika ini mereka sudah punah dan kita hanya bisa mengenali mereka menurut fosil-fosilnya yang disimpan di musium-musium tertentu. Boleh jadi, secara langsung maupun nir langsung, kepunahan mereka keliru satunya ditimbulkan oleh faktor keterbatasan kecerdasan yg dimilikinya. Dalam hal ini, telah sepantasnya manusia bersyukur, meski secara fisik tidak begitu akbar dan kuat, namun berkat kecerdasan yang dimilikinya hingga ketika ini insan ternyata masih dapat mempertahankan kelangsungan & peradaban hidupnya.

KECERDASAN EMOSIONAL (EQ) DAN KECERDASAN SPIRITUAL (SQ)

Sebenarnya sampai waktu ini para ahli pun tampaknya masih mengalami kesulitan untuk mencari rumusan yang komprehensif tentang kecerdasan. Dalam hal ini, C.P. Chaplin (1975) memberikan pengertian kecerdasan menjadi kemampuan menghadapi & beradaptasi terhadap situasi baru secara cepat dan efektif. Sementara itu, Anita E. Woolfolk (1975) mengemukan bahwa dari teori lama , kecerdasan mencakup 3 pengertian, yaitu : (1) kemampuan buat belajar; (dua) holistik pengetahuan yang diperoleh; & (tiga) kemampuan buat beradaptasi menggunakan dengan situasi baru atau lingkungan pada biasanya.

Memang, semula kajian tentang kecerdasan hanya sebatas kemampuan individu yg bertautan dengan aspek kognitif atau biasa diklaim Kecerdasan Intelektual yang bersifat tunggal, sebagaimana yang dikembangkan sang Charles Spearman (1904) menggunakan teori ?Two Factor?-nya, atau Thurstone (1938) menggunakan teori ?Primary Mental Abilities?-nya. Berdasarkan teori tersebut membuat pengelompokkan kecerdasan manusia yg dinyatakan dalam bentuk Inteligent Quotient (IQ), yang dihitung menurut perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) menggunakan taraf usia (chronological age), merentang mulai menurut kemampuan menggunakan kategori Ideot hingga menggunakan Genius (Weschler dalam Nana Syaodih, 2005). Istilah IQ mula-mula diperkenalkan oleh Alfred Binet, ahli psikologi dari Perancis dalam awal abad ke-20. Kemudian, Lewis Terman berdasarkan Universitas Stanford berusaha membakukan tes IQ yg dikembangkan sang Binet menggunakan mempertimbangkan kebiasaan-kebiasaan populasi sebagai akibatnya selanjutnya dikenal menjadi tes Stanford-Binet.

Selama bertahun-tahun IQ sudah diyakini menjadi berukuran baku kecerdasan, namun sejalan menggunakan tantangan dan suasana kehidupan terbaru yang serba kompleks, ukuran standar IQ ini memicu perdebatan sengit & sekaligus menggairahkan pada kalangan akademisi, pendidik, praktisi usaha & bahkan publik awam, terutama jika dihubungkan menggunakan taraf kesuksesan atau prestasi hidup seseorang.

Daniel Goleman (1999), salah seseorang yang mempopulerkan jenis kecerdasan manusia lainnya yang dipercaya sebagai faktor penting yang bisa mensugesti terhadap prestasi seorang, yakni Kecerdasan Emosional, yang kemudian kita mengenalnya dengan sebutan Emotional Quotient (EQ). Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosi merujuk dalam kemampuan mengenali perasaan kita sendiri & perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri & kemampuan mengelola emosi menggunakan baik dalam diri sendiri dan pada interaksi menggunakan orang lain.

Menurut irit penulis sesungguhnya penggunaan kata EQ ini tidaklah sepenuhnya sempurna & terkesan sterotype (latah) mengikuti popularitas IQ yang lebih dulu dikenal orang. Penggunaan konsep Quotient dalam EQ belum begitu kentara perumusannya. Berbeda menggunakan IQ, pengertian Quotient disana sangat jelas memilih kepada hasil bagi antara usia mental (mental age) yg didapatkan melalui pengukuran psikologis yang ketat menggunakan usia kalender (chronological age).

Terlepas berdasarkan ?Kesalahkaprahan? Penggunaan istilah tadi, terdapat satu hal yang perlu digarisbawahi dari para ?Penggagas beserta pengikut kelompok kecerdasan emosional?, bahwasanya potensi individu pada aspek-aspek ?Non-intelektual? Yang berkaitan menggunakan perilaku, motivasi, sosiabilitas, serta aspek ? Aspek emosional lainnya, adalah faktor-faktor yg amat penting bagi pencapaian kesuksesan seseorang.

Berbeda menggunakan kecerdasan intelektual (IQ) yang cenderung bersifat permanen, kecakapan emosional (EQ) justru lebih mungkin buat dipelajari & dimodifikasi kapan saja & oleh siapa saja yg berkeinginan buat meraih sukses atau prestasi hidup.

Pekembangan berikutnya dalam bisnis buat menguak rahasia kecerdasan insan merupakan berkaitan menggunakan fitrah insan sebagai makhluk Tuhan. Kecerdasan intelelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) dicermati masih berdimensi horisontal-materialistik belaka (manusia sebagai makhluk individu & makhluk sosial) & belum menyentuh persoalan inti kehidupan yang menyangkut fitrah insan sebagai makhluk

Tuhan (dimensi vertikal-spiritual). Berangkat menurut pandangan bahwa sehebat apapun insan menggunakan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosionalnya. Pada waktu-saat tertentu, melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya manusia akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa pada luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yg melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan misalnya itu menurut Zakiah Darajat (1970) diklaim sebagai pengalaman keagamaan (religious experience).

Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan nir hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, tetapi juga mengakui-Nya menjadi sumber nilai-nilai luhur yang tak pernah mati yang mengatur rapikan kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karenanya, insan akan tunduk dan berupaya buat mematuhinya menggunakan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual eksklusif, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun pada bentuk nyata kehidupan sehari-hari (Abin Syamsuddin Makmun, 2003).

Temuan ilmiah yang digagas oleh Danah Zohar & Ian Marshall, & riset yang dilakukan oleh Michael Persinger pada tahun 1990-an, dan riset yang dikembangkan oleh V.S. Ramachandran pada tahun 1997 menemukan adanya God Spot dalam otak manusia, yg sudah secara built-in adalah pusat spiritual (spiritual centre), yang terletak diantara jaringan syaraf & otak. Begitu pula output riset yg dilakukan sang Wolf Singer memperlihatkan adanya proses syaraf pada otak manusia yang terkonsentrasi pada usaha yg mempersatukan & memberi makna dalam pengalaman hidup kita.

Suatu jaringan yg secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama buat hidup lebih bermakna. Pada God Spot inilah sebenarnya masih ada fitrah insan yang terdalam (Ari Ginanjar, 2001). Kajian mengenai God Spot inilah pada gilirannya melahirkan konsep

Kecerdasan Spiritual, yakni suatu kemampuan manusia yg berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hayati ini lebih bermakna. Dengan kata yg keliru kaprahnya dianggap Spiritual Quotient (SQ)

Jauh sebelum kata Kecerdasan Spiritual atau SQ dipopulerkan, pada tahun 1938 Frankl telah menyebarkan pemikiran mengenai upaya pemaknaan hidup. Dikemukakannya, bahwa makna atau logo hidup harus dicari oleh insan, yg pada dalamnya terkandung nilai-nilai : (1) nilai kreatif; (dua) nilai pengalaman & (tiga) nilai sikap. Makna hayati yg diperoleh insan akan berakibat dirinya menjadi seorang yg mempunyai kebebasan rohani yakni suatu kebebasan insan dari godaan nafsu, keserakahan, dan lingkungan yg penuh persaingan dan perseteruan. Untuk menunjang kebebasan rohani itu dituntut tanggung jawab terhadap Tuhan, diri & manusia lainnya. Menjadi insan merupakan kesadaran dan tanggung jawab (Sofyan S. Willis, 2005).

Sebagaimana diketahui ada 2 orang yang berjasa besar dalam berbagi & mempopulerkan kecerdasan emosional & kecerdasan spiritual yaitu K.H. Abdullah Gymnastiar atau dikenal AA Gym, da?I prominen menurut Pesantren Daarut Tauhiid ? Bandung menggunakan Manajemen Qalbu-nya & Ary Ginanjar, pengusaha muda yg poly bergerak dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusia menggunakan Emotional Spritual Quotient (ESQ)-nya.

Hasil pemikiran Ary Ginanjar Agustian melahirkan satu model pembinaan ESQ yg sudah memiliki hak patent tersendiri. Konsep training ESQ ala Ary Ginanjar Agustian menekankan tentang : (1) Zero Mind Process; yakni suatu bisnis buat menjernihkan balik pemikiran menuju God Spot (fitrah), kembali pada hati & fikiran yg bersifat merdeka & bebas berdasarkan belenggu; (2) Mental Building; yaitu usaha buat menciptakan format berfikir & emosi menurut kesadaran diri (self awareness), serta sinkron dengan hati nurani dengan merujuk dalam Rukun Iman; (tiga) Mission Statement, Character Building, dan Self Controlling; yaitu bisnis buat menghasilkan ketangguhan pribadi (personal strength) dengan merujuk dalam Rukun Islam; (4) Strategic Collaboration; bisnis buat melakukan aliansi atau sinergi menggunakan orang lain atau dengan lingkungan sosialnya buat mewujudkan tanggung jawab sosial individu; dan (5) Total Action; yaitu suatu usaha buat menciptakan ketangguhan sosial (Ari Ginanjar, 2001).

Berkembangnya pemikiran tentang kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) membuahkan rumusan dan makna tentang kecerdasan semakin lebih luas. Kecerdasan tidak lagi ditafsirkan secara tunggal dalam batasan intelektual saja. Menurut Gardner bahwa ?Keliru akbar apabila kita mengasumsikan bahwa IQ merupakan suatu entitas tunggal yg tetap, yang mampu diukur dengan tes memakai pensil dan kertas?. Hasil pemikiran cerdasnya dituangkan dalam kitab Frames of Mind.. Dalam kitab tadi secara meyakinkan memberikan penglihatan dan cara pandang alternatif terhadap kecerdasan insan, yang lalu dikenal menggunakan kata Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence) (Colin Rose dan Malcolm J. Nicholl, 2002) .

Berkat kecerdasan intelektualnya, memang insan telah mampu menjelajah ke Bulan & luar angkasa lainnya, membentuk teknologi kabar dan transportasi yang mengakibatkan dunia terasa lebih dekat dan semakin transparan, menciptakan bom nuklir, serta membentuk alat-indera teknologi lainnya yg super sophisticated. Tetapi bersamaan itu pula kerusakan yang menuju kehancuran total sudah mulai nampak. Lingkungan alam merasa terusik dan tidak bersahabat lagi. Lapisan ozon yg semakin menipis telah mengakibatkan terjadinya pemanasan global, banjir dan kekeringan pun terjadi di mana-mana Gunung-gunung menggeliat & memuntahkan awan & lahar panasnya. Penyakit-penyakit ragawi yang sebelumnya tidak dikenal, mulai bermunculan, misalnya Flu Burung (Avian Influenza), AIDs dan jenis-jenis penyakit mematikan lainnya. Bahkan, tatanan sosial-ekonomi menjadi rancu balau lantaran perilaku & konduite insan yg mengabaikan kejujuran dan amanah (konduite koruptif & perilaku manipulatif).

Manusia telah berhasil membentuk ?Super besar-super besar teknologi? Yang dapat menaruh manfaat bagi kepentingan hidup insan itu sendiri. Namun dibalik itu, ?Super besar-raksasa teknologi? Tersebut telah bersiap-siap buat menerkam dan menghabisi manusia itu sendiri. Kecerdasan intelektual yang nir diiringi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritualnya, tampaknya hanya akan menghasilkan kerusakan & kehancuran bagi kehidupan dirinya maupun umat manusia. Dengan demikian, apakah memang dalam akhirnya kita pun wajib bernasib sama seperti Dinosaurus ?

Dengan tidak bermaksud mempertentangkan mana yang paling krusial, apakah kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional atau kecerdasan spiritual, terdapat baiknya kita mengambil pilihan eklektik berdasarkan ketiga pilihan tersebut. Dengan meminjam filosofi klasik warga Jawa Barat, yaitu sehat, baik, benar dan pintar, maka kita dapat menarik konklusi bahwa menggunakan kecerdasan intelektualnya (IQ) orang sebagai sehat & pandai , menggunakan kecerdasan emosional (EQ) orang menjadi baik, dan dengan kecerdasan spiritualnya (SQ) orang sebagai benar. Itulah agaknya pilihan yang bijak bagi langsung juga menjadi pendidik atau calon pendidik.

Sebagai pribadi, galat satu tugas besar kita dalam hidup ini adalah berusaha berbagi segenap potensi (fitrah) kemanusian yang kita miliki, melalui upaya belajar (learning to do, learning to know (IQ), learning to be (SQ), & learning to live together (EQ), dan berusaha untuk memperbaiki kualitas diri-langsung secara terus-menerus, sampai pada akhirnya dapat diperoleh aktualisasi diri & prestasi hayati yg sesungguhnya (real achievement).

Sebagai pendidik (calon pendidik), dalam mewujudkan diri sebagai pendidik yang profesional dan bermakna, tugas humanisme kita adalah berusaha membelajarkan para siswa buat bisa menyebarkan segenap potensi (fitrah) kemanusian yg dimilikinya, melalui pendekatan & proses pembelajaran yg bermakna (Meaningful Learning) (SQ), menyenangkan (Joyful Learning) (EQ) & menantang atau problematis (problematical Learning) (IQ), sebagai akibatnya dalam gilirannya bisa didapatkan kualitas asal daya insan Indonesia yang sehat, baik, benar, dan pandai .

Sumber Bacaan

Abu Ahmadi & Joko Tri Prasetya. Strategi Belajar Mengajar. Bandung : Pustaka Setia

Abin Syamsuddin Makmun. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Rosda Karya Remaja.

Akhmad Sudrajat. 2006. Psikologi Pendidikan. Kuningan : PE-AP Press

Conny Semiawan, 1992, Pendekatan Keterampilan Proses, Jakarta, Grasindo

Ary Ginanjar Agustian. 2001. ESQ Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam; Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi & Sipritual. Jakarta : Arga.

Barbara B. Seels dan Rita C. Richey yg berjudul Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya, output terjemahan Dewi S. Prawiradilaga, dkk.(1995)

Basyar Isya. 2002. Menjadi Muslim Prestatif. Bandung : MQS Pustaka Grafika

Colin Rose & Malcolm J. Nicholl. 2002. Accelerated Learning for The 21st Century (terj. Dedi Ahimsa). Bandung : Nuansa.

Daniel Goleman.1999. Working With Emotional Intelligence. (Terj. Alex Tri Kancono Widodo), Jakarta : PT Gramedia.

E.Mulyasa. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep, Karakteristik & Implementasi. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

Gendler, Margaret E. 1992. Learning & Instruction; Theory Into Practice. New York: McMillan Publishing.

H.M. Arifin. 2003. Teori-Teori Konseling Agama dan Umum. Jakarta. PT Golden Terayon Press.

Iim Waliman, dkk. 2001. Pengajaran Demokratis (Modul Manajemen Berbasis Sekolah). Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat

Linda Campbel, Dee Dickinson, 2002, Metode Terbaru Melesatkan Kecerdasan, Depok, Inisiasi Perss

Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung : P.T. Remaja Rosdakarya.

Sudirman, Tabrani Rusyan, Zainal Arifin, 1992,Ilmu Pendidikan :Methoda Mengajar, Bandung, Remaja RosdaKarya.

Soedjiarto, 1993, Menuju Pendidikan Nasional Yang Relevan dan Bermutu, Jakarta, Balai  Pustaka

Sofyan S. Willis. 2004. Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta

Suharsono, 2002, Mencerdaskan Anak, Depo, Inisiasi Perss

Syamsu Yusuf LN. 2003. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.. Bandung: PT Rosda Karya Remaja.

Udin S. Winataputra, dkk. 2003. Strategi Belajar Mengajar.  Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka

Wina Senjaya. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Zulfikri Anas, 2006, Menciptakan Layanan Terhadap Peserta Didik, Jakarta, Depdiknas