
Malam itu, sunyi yang biasanya memayungi lereng-lereng Pangalengan, Kabupaten Bandung, tiba-tiba terkoyak oleh suara gemuruh yang mengerikan. Hujan deras yang mengguyur tanpa henti selama berjam-jam telah mencapai puncaknya, mengubah lereng bukit yang subur menjadi ancaman mematikan. Dalam kegelapan pekat yang hanya sesekali disambar kilat, sebuah bencana longsor hebat menelan dua nyawa tak berdosa, dua kakak beradik yang sedang terlelap dalam tidur mereka. Kejadian tragis ini bukan hanya sekadar catatan statistik, melainkan sebuah pengingat pahit akan kekuatan alam yang tak terduga dan kerentanan manusia di hadapan amukannya, terutama di wilayah-wilayah yang secara geologis memang rawan.
Peristiwa memilukan itu terjadi di sebuah permukiman sederhana yang terletak di kaki bukit, area yang secara visual tampak damai dengan hamparan hijau perkebunan teh yang membentang luas. Namun, kedamaian itu hanyalah ilusi yang menyembunyikan ancaman laten di bawah permukaannya. Rumah-rumah penduduk yang dibangun di lereng terjal, beberapa di antaranya tanpa fondasi yang memadai, menjadi sasaran empuk ketika tanah di sekitarnya kehilangan daya dukung. Pada momen-momen kritis seperti itu, ketika curah hujan melampaui ambang batas kemampuan tanah untuk menyerap air, lapisan tanah atas yang jenuh air menjadi sangat berat dan licin, memicu pergerakan massa tanah yang dahsyat.
Pangalengan, sebuah kecamatan yang terkenal dengan keindahan alamnya yang memukau, perkebunan teh yang ikonik, dan udara sejuk pegunungan, menyimpan ironi yang mendalam. Kesejukan dan kesuburan tanahnya yang menjadi daya tarik utama justru merupakan pedang bermata dua. Topografi wilayah ini didominasi oleh perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan lereng yang bervariasi, sebagian besar tergolong curam. Kondisi geologis seperti ini secara inheren membuat Pangalengan menjadi daerah yang rentan terhadap gerakan tanah, termasuk longsor, terutama saat musim penghujan tiba. Bentang alam yang menawan ini, dengan segala potensinya, juga membawa risiko yang tidak bisa diabaikan.
Faktor geologi memainkan peran krusial dalam menentukan tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap longsor. Di Pangalengan, jenis tanah vulkanik yang melimpah, meskipun subur untuk pertanian, memiliki karakteristik yang cenderung mudah jenuh air dan rapuh ketika terganggu. Lapisan batuan dasar yang lapuk, ditambah dengan keberadaan retakan atau bidang gelincir alami di dalam massa tanah, semakin memperparah kondisi. Ketika air hujan meresap ke dalam tanah melalui retakan-retakan ini, ia bertindak sebagai pelumas yang mengurangi gaya gesek antarpartikel tanah, melemahkan struktur tanah secara keseluruhan. Akibatnya, lereng yang stabil dalam kondisi kering dapat tiba-tiba ambruk saat kelembaban mencapai titik kritis.
Hujan deras yang menjadi pemicu utama tragedi ini adalah manifestasi dari pola iklim musiman di Indonesia, di mana musim hujan membawa curah air yang signifikan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, intensitas dan durasi hujan ekstrem cenderung meningkat, sebuah fenomena yang sering dikaitkan dengan perubahan iklim global. Hujan yang turun secara terus-menerus selama berjam-jam, bahkan berhari-hari, mengakibatkan akumulasi air yang luar biasa di dalam tanah. Debit air permukaan yang tinggi juga mengikis permukaan tanah, menambah tekanan pada struktur lereng. Kondisi ini menciptakan skenario sempurna untuk terjadinya longsor, terutama di area yang telah mengalami deforestasi atau perubahan tata guna lahan yang tidak sesuai.
Ironisnya, di tengah ancaman yang mengintai, banyak komunitas yang terpaksa hidup di daerah rawan bencana karena berbagai alasan sosio-ekonomi. Keterbatasan lahan yang aman dan terjangkau, tradisi turun-temurun, serta ketergantungan pada mata pencarian berbasis pertanian di lereng-lereng bukit, seringkali menjadi faktor penentu. Rumah-rumah sederhana yang dibangun dari material ringan dan tanpa perencanaan teknis yang memadai, semakin meningkatkan risiko terhadap penghuninya. Kesadaran akan bahaya longsor mungkin ada, namun seringkali terbentur oleh realitas ekonomi dan pilihan hidup yang terbatas. Ini adalah dilema kompleks yang membutuhkan pendekatan multidimensional untuk penyelesaiannya.

Pasca-kejadian, suasana duka dan kepanikan menyelimuti warga. Tim pencarian dan penyelamatan (SAR) gabungan, yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat, segera dikerahkan. Medan yang sulit, material longsoran yang tebal dan berlumpur, serta kondisi cuaca yang masih tidak menentu, menjadi tantangan besar dalam upaya evakuasi. Dengan peralatan seadanya, mulai dari cangkul, sekop, hingga tangan kosong, mereka berjuang melawan waktu, berharap menemukan korban dalam keadaan selamat. Setiap galian adalah doa, setiap gerakan adalah harapan, dalam upaya mulia menyelamatkan nyawa.
Pagi yang pilu menyelimuti Pangalengan ketika dua jenazah kakak beradik ditemukan di bawah timbunan material longsor. Tangis histeris keluarga dan isak pilu warga pecah, mengiringi evakuasi jenazah yang telah menjadi korban keganasan alam. Penemuan ini mengakhiri pencarian dengan hasil yang paling ditakuti, namun juga memberikan kepastian bagi keluarga yang telah menunggu dengan cemas. Mereka yang selamat dari tragedi itu merasakan duka yang mendalam, sekaligus trauma yang membekas. Komunitas berkumpul, saling menguatkan, berbagi beban kesedihan yang tak terhingga, menunjukkan solidaritas yang luar biasa di tengah penderitaan.
Dampak bencana longsor tidak hanya terbatas pada korban jiwa. Puluhan keluarga terpaksa mengungsi, kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan mata pencarian mereka. Trauma psikologis yang dialami oleh para penyintas, terutama anak-anak, memerlukan perhatian khusus. Rumah-rumah yang hancur, kebun-kebun yang tertimbun, dan infrastruktur dasar yang rusak, menjadi PR besar bagi pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait. Kebutuhan mendesak seperti makanan, pakaian, selimut, dan obat-obatan, segera dipenuhi di posko-posko pengungsian. Namun, pemulihan pasca-bencana adalah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen dan dukungan berkelanjutan.
[P11]
Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8335899/longsor-timpa-rumah-di-pangalengan-bandung-tewaskan-kakak-adik-saat-makan