Budi Santoso (45) Hilang di Kali Bekasi, SAR Gabungan Sisir News

Budi Santoso (45) Hilang di Kali Bekasi, SAR Gabungan Sisir News

Suasana di sepanjang bantaran Kali Bekasi, tepatnya di sekitar titik hilangnya seorang warga yang terjatuh dari perahu, kini diselimuti ketegangan dan harapan. Sebuah insiden tragis dilaporkan pada hari Senin sore, pukul 15.30 WIB, ketika seorang pria bernama Bapak Budi Santoso (45 tahun) secara tak terduga terpeleset dan tercebur ke dalam derasnya aliran sungai saat sedang melakukan aktivitas di atas perahu. Kejadian nahas ini segera memicu respons cepat dari berbagai elemen tim Search and Rescue (SAR) gabungan, yang kini mengerahkan segala sumber daya untuk menyisir setiap jengkal lokasi kejadian dan area sekitarnya, dengan harapan menemukan korban dalam kondisi selamat atau setidaknya dapat mengidentifikasi keberadaannya. Operasi pencarian ini menjadi prioritas utama, mengingat waktu adalah faktor krusial dalam setiap misi penyelamatan di perairan, terutama di sungai yang memiliki karakteristik dinamis seperti Kali Bekasi.

Detik-detik mencekam insiden ini berawal ketika Bapak Budi, seorang pekerja serabutan yang sering menggunakan perahu kecil untuk menyeberang atau mencari ikan di sungai, sedang melaju perlahan di area Kali Bekasi yang relatif ramai dilintasi perahu-perahu kecil lainnya. Menurut kesaksian beberapa warga dan rekannya yang berada tidak jauh dari lokasi, Bapak Budi terlihat sedang mencoba menstabilkan perahunya yang oleng akibat gelombang kecil dari perahu lain yang melintas. Dalam upaya tersebut, entah karena pijakan yang licin atau kehilangan keseimbangan mendadak, tubuhnya terhuyung dan dalam sekejap mata lenyap ditelan arus sungai yang saat itu sedang cukup deras. Teriakan panik dari rekan-rekan dan warga sekitar segera membahana, namun kecepatan kejadian dan arus sungai yang kuat membuat upaya pertolongan awal menjadi sangat sulit, bahkan nyaris mustahil dilakukan tanpa peralatan yang memadai.

Kali Bekasi, sebagai salah satu urat nadi penting di wilayah Jawa Barat, khususnya di Kota dan Kabupaten Bekasi, dikenal memiliki karakteristik yang beragam. Di beberapa titik, alirannya tenang dan lebarnya sedang, namun di area lain, terutama setelah hujan deras atau di bagian yang berkelok, arusnya bisa sangat kuat dan dalam. Titik kejadian hilangnya Bapak Budi diperkirakan berada di segmen sungai yang memiliki kedalaman bervariasi antara 3 hingga 7 meter, dengan dasar sungai yang dipenuhi lumpur tebal, sampah, dan rerimbunan tanaman air yang bisa menjadi perangkap berbahaya. Kondisi ini secara signifikan menambah kompleksitas bagi tim SAR dalam melakukan pencarian. Selain itu, visibilitas di bawah air yang sangat buruk akibat sedimentasi dan polusi menjadi tantangan utama yang harus dihadapi oleh para penyelam dan operator alat pencarian bawah air.

Menyikapi laporan darurat tersebut, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kantor SAR Jakarta segera menggerakkan timnya untuk berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota dan Kabupaten Bekasi, Kepolisian Air dan Udara (Polairud), serta berbagai organisasi relawan lokal seperti Pramuka Peduli, Destana (Desa Tangguh Bencana), dan komunitas penyelam setempat. Sebuah Pos Komando (Posko) terpadu didirikan di tepi sungai, tidak jauh dari lokasi terakhir terlihatnya korban, berfungsi sebagai pusat koordinasi, logistik, dan komunikasi. Dari posko ini, seluruh operasi direncanakan dan dipantau secara real-time, memastikan setiap upaya pencarian dilakukan secara sistematis dan efisien. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan komitmen kolektif untuk mengatasi musibah dan memberikan respons terbaik dalam situasi darurat.

Dalam operasi pencarian yang telah memasuki hari kedua, tim SAR gabungan telah mengerahkan berbagai jenis peralatan canggih dan personel terlatih. Beberapa unit perahu karet (rubber boat) dengan mesin tempel berkecepatan tinggi digunakan untuk menyisir permukaan sungai secara intensif, mencakup radius awal 3 kilometer dari titik kejadian. Selain itu, tim penyelam dari Basarnas dan Polairud dilengkapi dengan peralatan selam standar, termasuk tabung oksigen dan fin, telah berulang kali menyelam ke dasar sungai di area-area yang dicurigai. Namun, kondisi air yang keruh dan banyaknya material di dasar sungai menjadi hambatan serius bagi para penyelam, mengurangi efektivitas pencarian visual di bawah air. Untuk mengatasi keterbatasan ini, tim juga menggunakan alat pendeteksi bawah air seperti sonar portabel yang mampu memetakan objek di dasar sungai, meskipun dengan tingkat akurasi yang tetap dipengaruhi oleh kondisi medan.

Tantangan tidak hanya datang dari kondisi geografis dan hidrologis Kali Bekasi, tetapi juga dari faktor cuaca. Meskipun hari ini relatif cerah, laporan BMKG menunjukkan potensi hujan deras di hulu sungai dalam beberapa hari ke depan, yang dapat menyebabkan peningkatan debit air dan kecepatan arus secara drastis. Jika ini terjadi, operasi pencarian akan semakin sulit dan berisiko tinggi bagi para personel. Oleh karena itu, tim SAR berpacu dengan waktu, berusaha keras memaksimalkan upaya pencarian selagi kondisi masih memungkinkan. Mereka bekerja dalam shift yang teratur untuk memastikan stamina dan fokus personel tetap terjaga, mengingat misi ini membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Setiap personel yang terlibat memahami betul bahwa setiap detik sangat berharga dalam upaya menemukan korban.

Budi Santoso (45) Hilang di Kali Bekasi, SAR Gabungan Sisir News

Strategi pencarian dibagi menjadi beberapa sektor. Sektor pertama fokus pada area titik jatuh dan sekitarnya, dengan penyelaman dan penyisiran intensif. Sektor kedua meluas ke hilir sungai, menggunakan metode penyisiran permukaan perahu karet dan tim penyisir darat di sepanjang bantaran sungai, mencari tanda-tanda atau petunjuk yang mungkin terbawa arus. Tim darat ini bertugas menyisir area semak belukar, tumpukan sampah, dan area dangkal yang mungkin menjadi tempat tersangkutnya korban. Selain itu, koordinasi dengan warga setempat yang memiliki pengetahuan mendalam tentang karakteristik sungai di wilayah mereka juga sangat membantu dalam menentukan area-area potensial yang perlu diperiksa lebih lanjut. Beberapa warga bahkan secara sukarela ikut membantu dengan perahu-perahu tradisional mereka, menunjukkan solidaritas yang kuat di tengah musibah ini.

Keluarga korban, Bapak Budi Santoso, juga turut hadir di lokasi kejadian dengan wajah yang diselimuti kecemasan dan harapan tipis. Istri korban, Ibu Siti (42 tahun), dan kedua anaknya yang masih remaja, terlihat tak henti-hentinya memanjatkan doa dan sesekali menatap kosong ke arah aliran sungai, seolah berharap mukjizat akan terjadi. Pihak Basarnas dan BPBD telah memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga untuk membantu mereka melewati masa sulit ini. Kehadiran keluarga di lokasi, meskipun menambah beban emosional bagi para petugas, juga menjadi pengingat akan urgensi dan kemanusiaan dari setiap upaya pencarian yang dilakukan. Mereka berharap Bapak Budi dapat segera ditemukan, apa pun kondisinya, agar keluarga bisa mendapatkan kepastian dan ketenangan.

Insiden seperti yang menimpa Bapak Budi ini bukan yang pertama kali terjadi di perairan Indonesia, termasuk di Kali Bekasi. Kejadian ini kembali menyoroti pentingnya edukasi dan kesadaran akan keselamatan di perairan. Banyak warga yang masih mengandalkan perahu kecil tanpa dilengkapi alat keselamatan standar seperti pelampung, bahkan ketika melakukan aktivitas di sungai yang arusnya cukup deras. Kurangnya pemahaman tentang risiko dan abainya terhadap penggunaan alat pelindung diri seringkali menjadi faktor pemicu kecelakaan fatal. Pihak berwenang dan komunitas diharapkan dapat terus menggalakkan kampanye keselamatan perairan, tidak hanya untuk nelayan atau pekerja sungai, tetapi juga bagi siapa pun yang berinteraksi dengan lingkungan sungai, termasuk anak-anak yang bermain di tepi sungai.

[P11]

Sumber: https://news.detik.com/berita/d-8335961/pria-jatuh-ke-kali-bekasi-tim-sar-gabungan-sisir-lokasi