ALTERNATIF PENGGANTI UJI KOMPETENSI KEAHLIAN (UKK) SMK YANG DIHAPUS

 Alternatif Pengganti Uji Kompetensi Keahlian (UKK) SMK Tahun 2020 yang dihapus

Alternatif Pengganti Uji Kompetensi Keahlian (UKK) SMK tahun 2020 yang dihapus. Uji Kompetensi Keahlian (UKK) merupakan penilaian yang diselenggarakan khusus bagi siswa SMK untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik yang setara dengan kualifikasi jenjang 2 (dua) atau 3 (tiga) pada KKNI. UKK dilaksanakan di akhir masa studi oleh Lembaga Sertifikasi Profesi atau satuan pendidikan terakreditasi bersama mitra dunia usaha/industri. Hasil UKK bagi peserta didik akan menjadi indikator ketercapaian standar kompetensi lulusan. Sedangkan bagi stakeholder hasil UKK dijadikan sumber informasi atas kompetensi yang dimiliki calon tenaga kerja.

Materi UKK disusun berdasarkan skema sertifikasi sinkron dengan jenjang kualifikasi peserta uji/asesi yang memuat kemampuan melaksanakan pekerjaan khusus, operasional, &/atau penjaminan mutu. Soal UKK bisa berbentuk penugasan atau bentuk lain yang dievaluasi secara individual buat menciptakan suatu produk sinkron tuntutan baku kompetensi.

Melalui Surat Edaran (SE) Nomor 4 Tahun 2020, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim meniadakan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) dan Uji Kompetensi Keahlian (UKK) bagi siswa SMK.   Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Plt Dirjen Vokasi), Patdono Suwignjo mengatakan, UKK ditiadakan di masa pandemik Covid-19 karena uji kompetesi tersebut harus dilakukan secara tatap muka sehingga sangat sulit dilakukan secara daring.

“Mengingat bahwa sekarang lagi wabah Covid-19, kami lebih menitikberatkan pada keselamatan jiwa, maka uji kompetensi keahlian untuk SMK tahun 2020 tidak  diadakan. Tapi tidak berarti bahwa kita tidak bisa menilai kompetensi keahlian dari siswa SMK,” kata Patdono dalam Rapat Kerja dengan Komisi X DPR RI yang dilakukan melalui konferensi video, Jumat (27/3/2020).

Patdono menjelaskan, ada empat cara yang bisa diambil sebagai alternatif pengganti UKK. Alternatif pertama yaitu menggunakan nilai kompetensi praktik murid yang telah dilakukan dalam semester 1 sampai dengan 5, karena pada kurikulum SMK masih ada komposisi praktik dengan proporsi 60 s.D 70 %. Alternatif ke 2 yaitu memakai penilaian menurut praktik industri, lantaran siswa Sekolah Menengah Kejuruan melaksanakan praktik industri selama minimal 3 bulan dalam semester 5 menjelang semester 6.

Selanjutnya cara lain ketiga menggunakan nilai dari uji sertifikasi keahlian anak didik. Sekolah Menengah Kejuruan pula mempunyai catatan nilai yg sanggup digunakan buat menggantikan nilai uji kompetensi keahlian.

Alternatif keempat yaitu bila Covid-19 sudah selesai, maka Sekolah Menengah Kejuruan mampu bekerja sama menggunakan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) juga menggunakan industri buat melakukan uji sertifikasi kompetensi anak didik SMK.

Senada menggunakan hal tersebut, Plt Kepala Badan Penelitian & Pengembangan & Perbukuan (Balitbang), Totok Suprayitno, mengatakan bahwa terdapat aneka macam cara lain yg mampu digunakan sebagai indikator kelulusan anak didik. Misalnya, sekolah bisa menggunakan nilai semester genap tahun terakhir sebagai tambahan nilai kelulusan. ?Nilai tersebut menjadi dasar nilai ijazah yg digunakan buat keperluan lebih lanjut termasuk untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Jadi ini memang relaksasi dari kebijakan-kebijakan yg selama ini dilakukan,? Jelas Totok. (sumber: kemedikbud.Go.Id)